Manado, Sedetik.id – Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) tidak mau tinggal diam melihat tantangan krisis pangan. Berkolaborasi dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), mereka menggelar seminar strategis bertajuk “Generasi Muda Sulawesi Utara sebagai Penggerak Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal” pada Senin (20/4).
Acara ini menjadi wadah diskusi penting yang mempertemukan akademisi, praktisi, hingga tokoh adat untuk meramu masa depan pangan di Bumi Nyiur Melambai.
Dekan Fakultas Pertanian Unsrat, Prof. Ir. Dedie Tooy, M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa ketahanan pangan punya spektrum yang luas. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996, ia menjabarkan bahwa pangan bukan sekadar soal ketersediaan, tapi juga kualitas, keamanan, keberagaman, hingga keterjangkauan bagi rumah tangga.
“Ketahanan pangan juga berkaitan erat dengan swasembada pangan, ketersediaan air, serta penguatan ekonomi kreatif,” ujar Prof. Dedie. Ia menekankan bahwa kemandirian bangsa hanya bisa dicapai melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi di sektor pertanian.
Tokoh adat Minahasa, Belarmino Lapong, mengingatkan bahwa Sulut punya modal sosial yang kuat bernama Mapalus. Semangat gotong royong tanpa imbalan ini dinilai menjadi fondasi utama solidaritas pangan masyarakat Minahasa.
“Ketahanan pangan adalah nyawa, dan tanah adalah ibu. Orang Minahasa tidak akan membiarkan keluarganya kelaparan,” tegas Lapong. Menurutnya, nilai lokal ini sejalan dengan target Zero Hunger dalam SDGs yang sebenarnya sudah dipraktikkan Masyarakat Adat Minahasa jauh sebelum dicanangkan pada 2015.
Dari sisi praktisi, Dr. Ir. Lyndon Pangemanan menyentil stigma negatif yang masih melekat bahwa profesi petani itu kotor dan tidak menjanjikan. Ia mendorong anak muda untuk mengubah pola pikir dan melihat pertanian sebagai agribisnis modern.
“Pemuda harus meninggalkan anggapan bahwa petani adalah profesi kelas bawah,” jelas Lyndon. Ia menyarankan langkah nyata mulai dari proyek hidroponik, kebun kampus, hingga menjadi agripreneur muda.
Tidak cuma soal filosofi, urusan teknis seperti distribusi pupuk juga jadi bahasan. Combyan Lombongbitung, Ketua DPW Forum Alumni BEM Sulut, mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mereformasi sistem distribusi pupuk agar lebih efisien melalui teknologi.
Kini, petani yang terdaftar bisa menebus pupuk subsidi melalui aplikasi iPubers hanya dengan modal KTP. “Pemuda perlu turut mengawal agar distribusi tepat sasaran dan mencegah oknum yang menjual di atas harga eceran tertinggi (HET),” tutup Combyan.
Seminar ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi konkret antara kampus dan komunitas untuk meningkatkan literasi pertanian di kalangan generasi muda.
Diketahui kegiatan ini melibatkan peserta sebanyak 150 mahasiswa yang adalah mahasiswa Fakultas Pertanian, organisasi mahasiswa di Kota Manado, Pemuda Adat dan undangan lainnya.
(Iki)

