Sunday, July 26, 2026
HomeBERITARahasia Menulis Leos

Rahasia Menulis Leos

Tomohon, Sedetik.id – WAJAHNYA serius menatap. Sesekali pelan menganggukkan kepala saat menyimak setiap penjelasan. Tak berselang lama, bibirnya bergerak. Coba memberi respons hingga kisahnya terangkai cukup panjang.

Rabu, 22 Juli 2026, dalam sesi diskusi karya, kami duduk saling berhadapan. Hanya kami berdua.

Giliran saya menyimak dengan serius. Ceritanya bernada curhat. Itu bermula dari pertanyaan, “Apa yang memotivasi sehingga anda berada di Michi no Eki Pakewa, mengikuti kegiatan pelatihan menulis sastra lokal yang digelar Sanggar Kamang Wangko Woloan?”

Si Nona Leos mengaku sangat ingin menjadi penulis. Itu yang membuat ia senang melihat beberapa sahabatnya di sekolah. Sahabat yang suka menulis dan sering mengikuti berbagai lomba menulis.

Dia tak pernah mengalami pengalaman seperti sahabat-sahabatnya. Tak ada keberanian. Tak ada kepercayaan diri. Baru kali ini ia dapat kesempatan “istimewa”. Entah energi dari mana yang membuat tangannya sampai teracung tatkala guru kelas bertanya soal siapa yang berminat mengikuti kegiatan pelatihan menulis.

Sejak kelas V Sekolah Dasar (SD), Si Nona Leos sadar suka menulis. Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), hasrat itu kian mengencang. Diam-diam ia mulai menulis puisi, menulis cerita di dalam kamar. Aktivitas itu tak pernah diperlihatkan ke orang lain. Hanya dia, meja kecil di sudut ruangan dan kamar sunyi yang selalu menemaninya.

Mimpi itu mulai terasa indah, ketika ia mulai akrab dengan kawan-kawan yang suka mengikuti lomba menulis di SMP. Pikirnya, ini kesempatan untuk bisa “tertular penyakit aneh”. Tapi, seiring waktu ada tanya yang sering membuncah hingga mengepul menjadi risau. Dalam benak ia bertanya, “Kenapa tulisan saya tidak berkembang dengan baik? Sepertinya saya sangat lambat mencerna dan membuat karya dibanding sahabat-sahabat yang lain.”

Ia heran, mengapa mereka bisa dengan cepat menulis puisi, cerita pendek dan karya tulis lainnya. Saat diberi tema oleh guru, tak perlu hitung jam, karya mereka sudah selesai ditulis. Belum lagi saat mereka menbacakan karya itu di depan kelas. Sangat menarik, menyentuh, dan membuat ia sampai berdecak kagum. Leos berpikir, kemampuannya benar-benar terbatas, berada di bawah orang lain.

Sambil menyimak alunan kisahnya, saya berpikir, sahabat penulis muda ini sesungguhnya sudah memiliki modal penting untuk menjadi penulis. Kemauan. Dia sudah mulai menulis. Barangkali ia hanya butuh sedikit motivasi untuk memompa agar energi dahsyat dalam dirinya bisa mengalir deras.

Saya tegaskan ke Leos, “Menulis itu bukan karunia yang jatuh dari langit!”

Menulis seperti kita belajar naik sepeda. Bukan soal seberapa cepat kita bisa timbang badan dan berhasil menaklukkan benda itu. Ini hanya soal waktu. Terpenting kemudian, apakah kita benar-benar serius. Karena tahap selanjutnya ini bukan hanya soal hobi, tapi pilihan. Ketika kita berhasil mengendarai sepeda, pilihan selanjutnya apakah kita mau menjadi pembalap sepeda profesional, road racefreestylertrack cycling atau mountain biking?

Saya coba bertanya ke Nona Leos, apa hal yang dia senangi.

“Jelas menulis,” katanya.

“Hal lain selain menulis?”

“Saya senang kuda. Opa saya memelihara kuda. Dulu punya stable. Setiap ada pacuan di Tompaso, saya pasti menonton bersama ayah.”

Topik pun kembali berpindah, tapi tetap di dalam “rel”. Saya berkisah tentang seekor kuda bernama Golden Tempo. 2 Mei 2026 lalu, kuda ini berhasil mengukir sejarah dengan menjuarai Kentucky Derby ke-152 di arena pacuan kuda Churchill Downs Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Kenapa sejarah? Kuda milik Phipps Stable ini hadir sebagai non-unggulan dalam salah satu balapan Triple Crown bergengsi di Amerika Serikat.

Kalau kita menonton kejuaraan itu, kita akan menyaksikan bagaimana Golden Tempo berada paling belakang dari 18 ekor kuda yang berpacu di lintasan sejak bendera hijau dikibarkan. Ia sempat tertinggal sangat jauh di belakang. Namun, menjelang tikungan terakhir, di lintasan lurus, kuda yang ditunggangi joki Jose Ortiz itu perlahan berhasil menyalip satu-persatu para pesaingnya hingga finis di posisi pertama.

Dunia pacuan kuda dibuat tercengang. Namun, apakah itu kebetulan? Lima minggu kemudian, 6 Juni 2026, Golden Tempo kembali menjuarai Belmont Stakes di Saratoga Racecourse. Ia berhasil mengungguli kuda-kuda jagoan yang sangat diunggulkan seperti  Commandment dan Renegade.

“Tahu tidak, sejarah lain yang terukir bersama Golden Tempo di Kentucky Derby? Pelatihnya, Cherie DeVaux, menjadi perempuan pertama dalam sejarah yang memenangkan Kentucky Derby,” kata saya ke Leos.

Seperti arena pacuan kuda, bukankah demikian juga karya sastra? Kita tidak sedang berlomba menjadi yang pertama selesai menulis. Kita sedang belajar bertahan hingga tulisan kita menemukan garis finisnya.

“Dalam menulis, hal yang berbahaya bukan terlambat, tapi berhenti sebelum sampai.”

Si Nona Leos tampak sangat antusias mendengar kisah Golden Tempo. Wajahnya penuh senyum. Saya pun kembali bertanya, “Tahu kuda Zilong Rimboka?”

“Ia. Saya pernah menonton langsung ia berpacu di Pacuan Kuda Tompaso,” ujar Leos penuh semangat.

Minggu, 12 Juli 2026 lalu. Di Gelanggang Pacu Legok Jawa, Zilong Rimboka berlomba seperti Golden Tempo di Kentucky. Turun bersama kuda-kuda tangguh Kelas Derby 3 Tahun pada babak Penyisihan Heat 1 di Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Seri 1 Indonesia Derby 2026, ia tampak berada di posisi belakang ketika memulai pertandingan. Namun kuda andalan Sulawesi Utara itu perlahan bangkit berlari sangat kencang di 200 meter akhir pada lintasan lomba sepanjang 2.000 meter sebelum akhirnya mengunci podium juara secara spektakuler. Zilong Rimboka disusul jagoan Sulawesi Utara lainnya, Monochrom dari Miranda Stable, memastikan tiket final kelas paling bergengsi Indonesia Derby 2026 yang akan digelar pada 26 Juli 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Legokjawa, Cimerak, Pangandaran, Jawa Barat. Tepuk tangan penonton bergemuruh menyaksikan peristiwa itu.

Apa yang bisa kita refleksikan dari cerita Golden Tempo dan Zilong Rimboka? Sesuai pengalaman saya, bakat mungkin membuat seseorang melangkah lebih cepat. Tetapi ketekunanlah yang membuat seseorang mencapai garis akhir.

Sungguh gembira melihat ekspresi Si Nona Leos. Lebih gembira lagi karena bisa bersua calon “penulis besar” dari tanah Minahasa. Dari goresan karya yang ditulisnya, saya merasakan sebuah kekuatan. Dari sorot matanya, ada keyakinan yang tak bisa diukur, “Dia pasti jadi! Barangkali beberapa tahun lagi saya akan menemukan nama Leos di sampul-sampul buku. Saat itu orang mungkin mengira ia lahir sebagai penulis berbakat. Mungkin mereka tak akan tahu, perjalanan itu dimulai dari seorang anak yang pernah merasa dirinya selalu tertinggal.”

Saat ini, pasti ada banyak “Leos” lain di antara kita. Mereka tidak kurang berbakat. Mereka hanya sedang menunggu seseorang yang berkata, “Teruslah menulis.”

Leos dan saya sesungguhnya tidak sekadar membincangkan hobi kami, kuda pacu. Kami sedang saling memotivasi tentang bagaimana memberi yang terbaik dalam gerakan literasi di Minahasa, Sulawesi Utara. Sebagai kelung umbanua, kami sedang berupaya menggores jejak peradaban untuk tou dan tana’. Karena sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang pandai berbicara, tetapi juga oleh mereka yang setia menuliskan ingatan, budaya, dan harapan bangsanya.

Kali ini, ruang waktu terbatas untuk saya dan Leos bertukar kisah lebih jauh. Masih ada kawan-kawan penulis lain yang menunggu untuk bisa sharing tentang karya yang telah mereka buat.

“Terima kasih, Kak. Saya berharap bisa bersua lagi untuk menyerap pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, Kakak,” ucap Leos sembari mengulurkan tangan kanannya untuk memberikan salam.

Menatap ia beranjak dari kursi, hati berucap, “Saya percaya, suatu hari nanti Leos akan menyadari bahwa ia tidak pernah kalah dari siapa pun. Ia hanya sedang menempuh lintasan yang berbeda. Sebab dalam dunia menulis, seperti juga di lintasan pacuan, tidak semua juara memimpin sejak garis start. Ada yang baru menunjukkan kelasnya menjelang garis finis.”

“Semangat, Kawan. Apalagi Angko bukang kuda. Angko itu touBahidop. Jang lupa, delapan belas kuda jagoan Sulut mo berlaga di final Indonesia Derby 2026 tanggal 26 Juli 2026.”

Leos menatap ke belakang, melempar senyum sambil mengangkat kedua jempolnya ke arah saya.

Penulis: Rikson Karundeng

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Most Popular

Recent Comments